Senin, 23 Januari 2012

Riwayat Mbah Sambiresik Bag.1



Untuk lebih jelasnya, Bagaimana & Siapa Mbah Sambi Resik itu..., Saudara"ku smua bisa men-download disini Mbah Sambi Resik

BUKU SILSILAH INI BISA
DICOPY / COPY PASTE / DOWNLOAD / DIGANDAKAN
KHUSUS UNTUK KALANGAN KETURUNAN MBAH SAMBIRESIK

www.google.co.id (silsilah mbah sambiresik)
Disempurnakan : Lamongan, 14 Agustus 2010 M / 4 Ramadlan 1431 H

ASAL USUL MBAH SAMBIRESIK DAN RIWAYATNYA

Tersebutlah seorang Sunan perempuan bernama Raden Ayu Sekar Kedaton (Raden Ayu Kalinyamat binti Joko Tingkir) meninggalkan Singgasananya. Demikian awal kisah seperti yang dituturkan oleh Yai Bulchin (KH. Abdul Aziz, 82 tahun, Kedundung Mojokerto 26 Mei 1987). Dengan mengendarai seekor gajah putih sampai lah beliau di suatu rawa yang bernama “Rowo Suro”. Dari asal-usul inilah di kemudian hari kerajaannya dinamakan “SUROKARTO”. Sampai di sini riwayat berdirinya Keraton Surokarto atau Mataram.
Kerajaan Mataram terus berlangsung, yang kemudian tiba pada kurun waktu pemerintahannya Sunan Prabu atau Sunan Amangkurat IV. Di dalam keluarga Keraton terdapat seorang anggota keluarga yang bernama KH. ABDUR ROHMAN putra Pangeran Hadi Kusumo atau cucu Amangkurat I, atau misanan Sunan Prabu, juga misanan Sunan Mas (Amangkurat III). Abdur Rohman muda pernah lelaku riyadloh selama 8 tahun di gunung Imogiri, sehingga mendapat sebutan Sultan Bangun Tapa. Antara Sunan Prabu dan KH. Abdur Rohman selalu terjadi perselisihan, yang disebabkan oleh condongnya Sunan Prabu kepada V.O.C. (Perserikatan Dagang Belanda) yang ditentang oleh KH. Abdur Rohman. Ketika Sunan Prabu menetapkan penanggalan Masehi  sebagai kalender resmi Kerajaan dan KH. Abdur Rohman menghendaki penanggalan Hijriyah, maka beliau  KH. Abdur Rohman memutuskan untuk menghilang dari keluarga Keraton Mataram. Peristiwa ini terjadi pada tahun 1720an.
Sampai 2 tahun KH. Abdur Rohman tidak pernah ditemukan, padahal Sunan Prabu sudah memerintahkan para Ronggo untuk berusaha mencarinya sampai ke daerah Banyuwangi. Setelah itu Sunan mendengar berita bahwa di daerah Bangak Wonotoro Solo, muncul nama seorang Ulama’ KH. Abdur Rohman dengan pesantrennya yang mulai besar. Sunan mengirimkan utusan ke pesantren tersebut. Untuk memastikan apakah benar Ulama’ itu adalah KH. Abdur Rohman saudaranya Sunan sendiri, dan ternyata benar. Sunan kemudian memerintahkan para Ronggo supaya tidak mengganggu Pesantren tersebut. Sang Kyai sendiri yang melaksanakan babat alas pete, sehingga beliau mendapat sebutan Ki Ageng Wonotoro, ( Tempat itu sekarang bernama Dsn. Wonotoro, Ds. Catur, Kec. Sambi, Kab. Boyolali, Jawa Tengah, berdekatan dengan Ds. Bangak, Kec. Banyudono, Kab. Boyolali, dan perlu ditegaskan bahwa periwayatan ini adalah bukan yang dimaksudkan dengan nama Ki Ageng Wonontoro atau Ki Ageng Wonokusumo yang makamnya di Dusun Wonontoro, Ds. Jatiayu, Kec. Karangmojo, Kab. Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta ).
Beberapa lama kemudian Sunan dipengaruhi juga oleh Belanda, supaya menyingkirkan Sang Kiyai di Wonotoro itu, dengan alasan supaya tidak muncul kekuatan baru yang akan meruntuhkan Mataram. Sunan menyetujui dan mengijinkan Belanda untuk membunuh KH. Abdur Rohman. Lalu berangkatlah satu pasukan Tentara Belanda menyerang Pesantren Wonotoro, dan terjadilah pertempuran yang ke I. KH. Abdur Rohman dan para santrinya mempertahankan diri dengan mengerahkan batu-batu Gunung  Merbabu dengan kekuatan tenaga batin. Hampir semua Tentara Belanda tewas, dan sisanya mundur dari Pesantren Wonotoro. Selanjutnya terjadi pertempuran yang ke II, dan kali ini pasukan Belanda semuanya habis, karena Kiyai mengerahkan para santrinya yang dibantu dengan kekuatan api Gunung  Merapi. Kejadian ini membuat para pemimpin V.O.C. panik. Pasukan Wonotoro tidak dapat dihadapi dengan kekuatan dan mungkin harus dihadapi dengan taktik atau kelicikan tipu daya. Pada pertempuran yang ke III, pasukan Belanda tidak menyerang Pesantren Wonotoro, tetapi menyerang Desa Magersari (Tempat itu sekarang bernama Ds. Tempursari, Kec. Sambi, Kab. Boyolali, Jawa Tengah) yang berdekatan dengan Pesantren Wonotoro, dan menghajar penduduk yang tidak bersalah. Tanpa sepengetahuan KH. Abdur Rohman, hangus dan hancurlah Desa Magersari, dan hancurlah perasaan KH. Abdur Rohman setelah mendengarnya. Sang Kiyai kemudian memutuskan untuk menghadap sendiri kepada salah seorang Jenderal V.O.C. untuk berunding, dan mengatakan apa yang sebenarnya dikehendaki Belanda. Jawabannya ialah V.O.C. menghendaki kematian Sang Kiyai. Maka Kiyai merelakan kematian dirinya, asal penduduk yang tidak bersalah tidak dibinasakan, juga V.O.C. harus berjanji tidak membinasakan anak keturunan KH. Abdur Rohman. Sang Jenderal kemudian berjanji, sambil menanyakan bagaimana caranya untuk dapat membunuh Kiyai. Sang Kiyai mengatakan bahwa Belanda hanya dapat membunuhnya, bila beliau sedang berada di dalam Masjid dan sedang Sholat, dengan cara mengambil Pusaka yang terselip di badannya dan ditikamkan.
Pada pagi hari ketika Kiyai sedang Sholat di dalam Masjid (masjid itu sekarang bernama Masjid Wonokusumo, Dsn. Wonotoro, Ds. Catur, Kec. Sambi, Kab. Boyolali, Jawa Tengah) masuklah seorang tentara Belanda yang akan membunuh Kiyai. Karena tentara Belanda tersebut masuk dengan bersepatu, maka tiba-tiba jatuh pingsan. Setelah sadar tentara Belanda itu masuk Masjid tetap dengan bersepatu lagi, dan jatuh pingsan lagi. Setelah sadar kedua kalinya tentara Belanda tersebut memutar otak, yang kemudian teringat kebiasaan Tata Cara Orang Islam bila memasuki Masjid. Sang tentara Belanda ternyata bisa mengucapkan kalimat Syahadat dan mengambil air wudlu’ secara Islam, kemudian ia masuk ke dalam Masjid dengan tidak bersepatu, dan berhasillah mendekati Sang Kiyai yang sedang terus Sholat itu. Pusaka cundrik yang terselip di badan Kiyai dapat diambilnya lalu ditikamkan, maka wafatlah Sang Kiyai.
Sunan Prabu di Mataram memerintahkan supaya jasad KH. Abdur Rohman dimakamkan di tempat pesantrennya, di Bangak Wonotoro Solo (tempat itu sekarang adalah Dsn. Wonotoro, Ds. Catur, Kec. Sambi, Kab. Boyolali, Jawa Tengah). Setelah V.O.C. mengakhiri riwayat Sang Kiyai, ternyata V.O.C. tidak menepati janjinya. Putra Sang Kiyai yang bernama Wijil Afandi ketika itu baru saja pulang dari menggembala kambing, dan mengetahui di rumahnya sedang ribut. Belum sampai mengetahui apa yang sedang terjadi, tiba-tiba Wijil Afandi diserang oleh tentara-tentara V.O.C. yang akan membunuhnya juga. Wijil Afandi lari ke arah timur, dan dari sini dimulailah kisah baru, yaitu kisahnya Wijil Afandi.
Wijil Afandi sudah mengetahui bahwa Romonya dibunuh Belanda. Para Santri mengatakan supaya ia menyelamatkan diri. Seorang diri Wijil Afandi terus saja lari ke arah timur dan sampailah di Kota Magetan, dan terus ke timur lagi. Di sebelah timur Magetan Wijil Afandi hampir saja tertangkap oleh Belanda. Dia dikepung dan digerebek di tempat suatu pekuburan. Masuklah Wijil Afandi ke dalam sebuah kuburan yang berlobang dan bersembunyi di dalamnya selama 7 hari. Karena Belanda tidak berhasil menemukannya, maka mereka meninggalkan tempat itu, dan terus mencari di tempat lain. Setelah keadaannya sepi, Wijil Afandi keluar dari kuburan dan meneruskan perjalanan ke timur arahnya melewati Gunung  Lawu, dari sini perjalanannya kemudian diikuti seekor macan putih. Bersama macan putih Wijil Afandi sampai di daerah Kediri pada suatu tempat yang bernama WONOKESAMBI. Di sini Wijil Afandi beristirahat untuk bertapa selama tiga tahun ditemani macan putih tersebut. Selama bertapa, tempat yang ditempati selalu resik karena selalu dibersihkan oleh angin. Inilah yang kemudian hari menjadi nama “SAMBIRESIK SELOWANGI”, atau hutan Kesambi (Kecacil) yang resik dan ada batu yang berbau harum, (tempat itu sekarang bernama Ds. Sambiresik, Kec. Gampengrejo, Kab. Kediri, Jawa Timur).
Setelah selesai tiga tahun bertapa di Wono Kesambi. Wijil Afandi meneruskan perjalanan dengan menggunakan perahu getek yang dirakitnya sendiri. Sesuai perintah wangsit yang diterimanya dalam riyadloh. Perjalanan dimulai dari bengawan di Kediri (Kali Brantas). Dia berniat apabila perahunya nanti kandas selama 40 hari, maka disitulah ia harus turun. Wijil Afandi mulai ”ngintir kali” dengan perahunya, dan berlama-lama di atas air siang dan malam, sampai kemudian kandas di Kedungsoro Gedeg Mojokerto, (tempat itu sekarang bernama Ds. Terusan, Kec. Gedeg, Kab. Mojokerto, pada titik pertemuan antara Kali Brangkal dengan Bengawan Brantas, berhadapan sebelah barat Jembatan Lespadangan utaranya alun-alun Kota Mojokerto). Ternyata setelah 7 hari perahu Wijil Afandi hanyut lagi, karena disundhul bajul putih, yang akhirnya memasuki tempat yang berrawa-rawa yang mempunyai sebutan deso Rowo Kasepuhan, yang tepatnya daerah itu sekarang bernama Dsn. Tebuseren, Ds. Dukuhsari, Kec. Jabon, Kab. Sidoarjo, Jawa Timur). Sampai 40 hari perahu tetap kandas dan tidak hanyut lagi, yang berarti Wijil Afandi harus turun dari perahunya.
Wijil Afandi kemudian “ngenger” kepada seorang Mbok Rondo Kedungcangkring (sekarang bernama Tebuseren). Wijil Afandi kemudian dikhitankan, dan setelah cukup dewasa dikawinkan sampai punya anak satu. Setelah punya anak satu Wijil Afandi dipondokkan kepada Raden Kiyai Imam Besari, Gebangtinatar Tegalsari Ponorogo (sekarang dikenal dengan nama Pondok Tegalsari di Ds. Tegalsari, Kec. Jetis, Kab. Ponorogo, diapit Sungai Keyang dan Sungai Malo) (K.Imam Besari wafat tahun 1813, dan adalah seorang muridnya KH. Abdur Rohman Mataram). Wijil Afandi mondok selama 8 tahun, dan selama itu bukannya diajari mengaji, tetapi disuruh momong putra Kiyai dan membawakan kitab Sang Kiyai apabila akan ke mimbar. Selama delapan tahun Wijil Afandi momong sampai berganti putra empat. Setelah selesai delapan tahun Wijil Afandi dipanggil oleh Kiyainya, untuk dimandisucikan, lalu diberi semua kitab Sang Kiyai dan diajari awalnya saja, setelah itu disuruh pulang ke Tebuseren, dan disertakan kepadanya 500 orang Santri yang terdiri dari manusia dan jin. Dan disuruh membuat Masjid dalam waktu satu hari, dan jadilah Masjid dalam waktu satu hari.
Akhirnya daerah yang semula rawa-rawa itu menjadilah sebuah Pesantren yang besar dengan Masjidnya yang terbuat dari “SIRAP” yang sekitarnya ditanami tebu yang “SEREN-SEREN” (panjang) sehingga dapat dilingkarkan kesekeliling Masjid. Dari tempat demikianlah kemudian Adipati Suroboyo menamakan desa Tebuseren. Sedangkan Wijil Afandi sendiri disebut oleh para santrinya dengan nama Mbah Sambiresik karena pernah bertapa di Wono Kesambi yang Resik. Kemudian di sini Mbah Sambiresik atau Mbah Ahmad atau Mbah Wijil Afandi atau Mbah Tebuseren melanjutkan keturunannya. Anak Mbah Sambiresik berjumlah 15 orang, yang kebanyakannya perempuan, yang keturunannya menyebar di daerah Jawa Timur, yang terutama di daerah-daerah Sidoarjo, Mojokerto, Mojosari, Jombang, Kediri, Malang, Pasuruan, Probolinggo, Surabaya, Gresik, Lamongan, Tuban, juga ada yang kembali ke daerah Solo.
Makam Mbah Sambiresik berada di belakang Masjid Tebuseren, dan Masjid tersebut sekarang bernama Masjid “SAMBI NURUL HUDA”, Dusun Tebuseren Desa Dukuhsari Kec. Jabon Kab. Sidoarjo Jawa Timur.
Khaul Mbah Sambiresik selalu diperingati setiap tahun pada tanggal 15 Asyuro, yang diselenggarakan oleh para tokoh keluarga keturunan Mbah Sambiresik, para tokoh masyarakat setempat, dan para Pamong Desa. Kunjungan ke makam Mbah Sambiresik juga kunjungan acara Khaulnya berdatangan dari berbagai daerah, dan mereka pada umumnya mengaku sebagai keturunannya Mbah Sambiresik.

Keterangan :
Mbah Sambiresik merupakan salah satu dari sejumlah figur Islam Santri yang eksodus ke Jawa Timur, karena terdesak oleh hegemoni Islam Abangan yang mendominasi kekuasaan Mataram yang didukung oleh penjajah Belanda pada masanya.

SEKITAR ASAL-USUL NABI ADAM A.S.
DAN PEMBUATAN SILSILAHNYA SEKITARNYA

Dalam buku silsilah ini disajikan nama-nama yang berurutan secara vertikal yang dimulai dari Nabi Adam A.S. sampai Mbah Sambiresik, melalui jalur kanan (para Nabi dan para Wali) dan jalur kiri (para Wayang dan Raja-Raja Benggala serta Raja-Raja Jawa)
Silsilah jalur kanan yang dimulai dari Nabi Adam A.S. sampai nama-nama sebelum Nabi Muhammad SAW, adalah didapatkan dari tulisan orang-orang Yahudi pada zaman Kitrah (sebelum Nabi Musa),pada zaman Nabi Musa A.S, dan sesudahnya. Sedangkan nama-nama setelah Nabi Muhammad SAW adalah didapatkan dari tulisan para Tabi’in, Tabi’it Tabi’in, sampai para Wali di Tanah Jawa serta para Raja Jawa.
Silsilah jalur kiri yang dimulai dari Nabi Adam A.S. sampai nama-nama Wayang hingga Raja-Raja Benggala dan Raja-Raja Jawa, adalah didapatkan dari Catatan kisah-kisah Wayang dan Catatan “Poro Ratu” Mataram. Semua informasi silsilah yang disampaikan di sini dapat disebutkan sumbernya, sedangkan kebenarannya adalah Alloh SWT  yang lebih mengetahui.
Tentang asal-usul Nabi Adam A.S., kita bisa mendapatkan informasinya dari Wahyu maupun dari Sains. Informasi bahwa Nabi Adam A.S. dari tanah (turob) adalah sama-sama diberitakan oleh Wahyu maupun pembuktian Sains. Sedangkan informasi tentang Adam sebagai manusia pertama adalah tidak (belum) dapat dibuktikan oleh Sains, juga dari Kitab Suci Al-Qur’an tidak ditemukan satu ayatpun yang menyatakan bahwa Adam adalah manusia pertama. Al-Qur’an hanya menyatakan bahwa Adam adalah bapak sekalian manusia. Sedangkan pernyataan bahwa Adam adalah manusia pertama hanya disebutkan dalam Hadist Nabi.
Apabila Adam adalah pemimpin Homo Sapiens pertama, yang datang dari proses evolusi biologis, adalah bisa saja diterima oleh Sains maupun Al-Qur’an (yang telah ditafsirkan). Sedangkan apabila Adam adalah individu manusia pertama, adalah juga bisa saja diterima oleh Kitab Suci dan Sains. Untuk Sains alasannya ialah bahwa Hukum Relativitas Umum dan Mekanika Quantum membenarkan tentang adanya fenomena Mu’jizat. Apabila kemungkinan Adam datang tidak terkait dengan Evolusi, tapi hadir sendiri secara Revolusi, adalah kejadian itu termasuk Mu’jizat. Dan Mu’jizat bisa terjadi tanpa melanggar Sunnatulloh (hukum Alam/Sains).

SEKITAR JALUR KANAN DAN JALUR KIRI SILSILAH

Silsilah jalur kanan dan jalur kiri adalah dimulai dari dua putra Nabi Sits bin Adam A.S. yang kontradiktif. Sayid Anwasy (Yanisy) bin Sits yang beriman dan bertaqwa menurunkan para Nabi dan para Wali, yang selanjutnya disebut jalur kanan. Sedangkan Sayid Anwar (Sang Hyang Nur Cahyo) yang menentang Tuhannya, menurunkan para Wayang, yang selanjutnya disebut jalur kiri.
Raja-Raja Mataram selanjutnya ternyata mewarisi jalur kanan dan jalur kiri. Sebagai contoh ialah Sultan Agung ternyata tampil sebagai raja yang arif dan bijaksana, sedangkan Sultan Amangkurat I putra Sultan Agung tampil sebagai raja yang lalim dan bekerjasama dengan kaum Imperialis Belanda. Ternyata sifat-sifat jalur kanan dan sifat-sifat jalur kiri bisa muncul berselang-seling dalam silsilah keturunan ini.
Silsilah jalur kanan yang dimulai dari Sayid Anwasy (Yanisy) disini hanya dapat diceritakan bahwa Yanisy langsung berketurunan di masanya sendiri tanpa penundaan. Sehingga nantinya nampak silsilah jalur kanan lebih panjang daripada silsilah jalur kiri. Jalur kiri ternyata lebih pendek 23 generasi daripada jalur kanan, yang ceritanya adalah seperti berikut ini :
Sayid Anwar Murtad (Sang Hyang Nur Cahyo) tidak langsung berketurunan dimasanya. Dia membujang dengan umur yang panjang sampai zaman setelah Nabi Ibrahim dan beberapa saat sebelum Nabi Musa. Dan baru berketurunan pada masa itu setelah menikah dengan salah seorang keturunan Jin yang bernama Dewi Nurini. Demikian pula anak cucunya nanti, selalu nampak pertautan dengan keturunan Jin. Misalnya nama-nama Dewi Rawati, Dewi Sahoti, Dewi Rekathawati, dan lain-lain adalah nama-nama itu merupakan nama-nama Jin.
Tentang alasan Sains, tentu cerita tersebut tidak dapat diterima, karena tidak ada pembuktian ilmiah bahwa antara manusia dan Jin, perkawinannya bisa menghasilkan keturunan. Tetapi manusia di samping hidup dalam dimensi alam material, ternyata hidup juga di dalam dimensi alam immaterial (shadow matter = alam bayangan), yang di sana juga berlaku hukum-hukum Fisika yang berkebalikan dengan hukum-hukum Fisika di sini, seperti benda di luar dan di dalam cermin. Dengan alasan ini maka bisa saja perkawinan antara manusia dengan jin bisa menghasilkan keturunan, setidak-tidaknya pewarisan sifat-sifat.
Kisah Sang Hyang Nur Cahyo bin Sits bin Adam A.S. sebagai pemula silsilah jalur kiri adalah sebagai berikut :
Sang Hyang Nur Cahyo (Sayid Anwar Murtad) ingin menjadi manusia yang tak terkalahkan oleh siapapun juga (seperti juga keinginan Iblis Azazil). Untuk itu ia menjelajahi dunia dan bertapa di tempat-tempat yang angker, di gunung , di dalam laut, sampai di dalam nyala api. Kehendaknya itu didukung oleh Ijajil (Azazil). Suatu ketika ia sampai di pulau Dewani (sebuah pulau di lautan lepas daratan India) dan bertapa di dalam sebuah gua. Pulau Dewani merupakan Kerajaan Jin Dinasti Ngejan.
Dewi Nurini adalah seorang putri yang teramat cantik dalam Dinasti Ngejan, yang kemudian menikah dengan Sang Hyang Nur Cahyo, dan menurunkan silsilah para Wayang. Dewi Nurini adalah putri Raja Nuradi bin Raja Wenus bin Raja Andajali bin Ejin bin Jan bin Marijan, dan selanjutnya termasuk nama bapak Jin yang pertama tidak diketahui. Ijajil (Azazil Iblis La’natulloh) adalah adik Raja Andajali, yang masih termasuk paman buyutnya Dewi Nurini istri Sang Hyang Nur Cahyo. Perkawinan Dewi Nurini dengan Sayid Anwar terjadi pada zaman Kitrah (menjelang munculnya Nabi Musa A.S.), yang salah satu putranya adalah bernama Sang Hyang Nur Roso, yang lakunya gemar bertapa seperti ayahnya. Sang Hyang Nur Roso kawin dengan Dewi Rawati bin Raja Rawangin bin Raja Wenus.
Sang Hyang Nur Roso mempunyai putra Sang Hyang Darmajaka dan Sang Hyang Wenang (Sang Hyang Wening) karena wajahnya yang amat cerah.
Sang Hyang Wenang bercita-cita ingin menyamai Sang Maha Pencipta (= tentunya sudah keterlaluan sesatnya). Dengan kesaktiannya ia menciptakan istana emas di atas mega tinggi beralaskan awan di atas Gunung  Keling. Raja Keling (Jin) yang marah atas ulah Sang Hyang Wenang, pada suatu malam terbang menuju istana atas angin itu, tetapi berkali-kali ia jatuh karena kalah sakti dengan Sang Hyang Wenang. Akhirnya Raja Keling menyerah kalah dan mempersembahkan putrinya yang bernama Dewi Sahoti menjadi permaisurinya. Dan daripadanya lahir Sang Hyang Tunggal.
Sang Hyang Tunggal kawin dengan Dewi Rekathawati bin Rekathatama (Jin berwujud kepiting) bin Yuyutama bin Minangkara bin Menak bin Dari bin Raja Wenus. Sang Hyang Tunggal dan Dewi Rekathawati mempunyai putra Batara Manik  dan Batara Maya, yang keduanya menetas dari sebuah telur yang keluar dari rachim Dewi Rekathawati. Batara Maya yang tua keluar dari putih telur, dan Batara Manik yang muda keluar dari kuning telur. Telur itu menetas di Tanah Jawa setelah terbang melalui angkasa dari Negeri Dewani. Batara Manik dan Batara Maya yang menjadi penguasa dan pemula silsilah raja-raja Jawa diceritakan dalam Kitab Manikmaya.

TUTUR CERITA DARI YAI BULCHIN (KH. ABDUL AZIZ)

Pada tanggal 14 September 1989, Yai Bulchin (Kedundung Mojokerto) menyampaikan tutur ceritanya seperti yang diterimanya dari Mbahnya yang bernama Nyai Ngarimah istri Mbah Mas Ma’nawi Mojojejer, seperti berikut ini :
Kisah Mbah Muhamad Ngalwi dan Pak Eglek

Tersebutlah di desa bernama Jiyu, sebuah desa yang bersebelahan dengan desa Mojojejer, ada seorang Lurah yang bernama Pak Eglek dan kepetengannya bernama Pak Rinek. Desa Jiyu hanya dihuni oleh tujuh orang penduduk, yang pekerjaannya adalah menanam padi. Pada suatu malam Mbah Muhamad Ngalwi yang diberi gelar Lalap Caluk bersama santrinya yang diberi gelar Gabuk Serepet menyumbat air yang mengalir ke sawah desa Jiyu. Lurah Eglek dan Pak Rinek marah dan mengumpat-umpat (mesuh-mesuh). Mbah Muhamad Ngalwi dan Gabuk Serepet bersembunyi di dalam batu secara sirna jasad. Mendengar tantangan yang lantang dari Pak Eglek yang mengatakan bahwa kalau Mbah Muhamad Ngalwi punya ilmu yang tinggi keluarlah dan kemudian adu kekuatan. Segera Mbah Muhamad Ngalwi mewujudkan dirinya yang langsung disambut dengan tumbak oleh Pak Eglek. Karena Mbah Muhamad Ngalwi punya aji lembu sekilan maka tubuh Mbah Muhamad Ngalwi tidak dapat ditembus. Serangan kemudian diberikan oleh Mbah Muhamad Ngalwi kepada Pak Eglek dengan memukulkan berkali-kali ke kepala Pak Eglek dengan senjata yang namanya Caluk (celurit). Tapi karena Pak Eglek juga mempunyai kesaktian, maka caluk itu tidak mempan juga. Namun karena terlalu banyaknya pukulan maka kepala Pak Eglek menjadi panas juga dan tidak tahan dan lalu lari minggat.
Dicarinya kemudian oleh Mbah Muhamad Ngalwi apakah Pak Eglek masih ada di desa Jiyu, ternyata sudah raib dari desa tersebut, sebab sesuai dengan watak pendekar apabila kalah dalam peperangan maka dengan konsekwen harus minggat dari tempat tinggalnya bersama semua para kawulanya. Setelah beberapa bulan padi yang ditanam oleh Pak Eglek dan penduduknya sudah mulai menguning. Maka kemudian para Lurah di sekitar desa tersebut mengadakan rembuk untuk membagi sawah desa Jiyu kepada para pemukim dari desa-desa di sekitar desa Jiyu. Sekian kisah tentang Mbah Muhamad Ngalwi dan Pak Eglek.

Kisah Mbah Abu Sufyan dan Rojo Bali

Mbah Abu Sufyan mempunyai ilmu yang bernama Ilmu Dali Putih. Yang dengan ilmu tersebut Mbah Abu Sufyan bisa terbang (ngawang). Untuk mendapatkan ilmu tersebut cukup dengan tirakat puasa hanya tujuh hari. Dengan ilmunya tersebut Mbah Abu Sufyan ingin berkenalan dengan Rojo Bali yang beragama Hindu. Maka terbanglah beliau ke Bali dan sampai di sana pada malam hari. Karena pada malam hari maka pintu Keraton sudah tertutup. Beliau bermaksud untuk menggunakan ilmunya dengan mengusapkan tangannya ke pintu supaya terbuka, namun tidak dapat, sebab sekalipun ilmunya tinggi tapi karena Rojo Bali kedudukan pangkatnya yang lebih tinggi dan beragama ghoirul Islam maka ilmu yang dipunyai Mbah Abu Sufyan tidak dapat diterapkan. Dan malam itu Mbah Abu Sufyan hanya berjalan-jalan ke petamanan untuk melihat-lihat bunga-bunga, dan kemudian beliau terbang pulang.


Kisah Mbah Abu Sufyan dan para kampak anak buahnya

Karena Mbah Abu Sufyan bisa terbang, maka beliau sering pergi jauh misalnya ke Banyuwangi, ke lereng Gunung Semeru, dan lain-lain daerah timur. Beliau mempunyai anak buah para kampak (perampok), yang sasarannya adalah sapi ajak di hutan-hutan. Pada suatu hari beliau mengiringkan anak buahnya para kampak merampok sapi ajak di lereng Gunung Semeru. Yang punya sapi mengejarnya dan setelah dekat beliau punya siasat yaitu sembahyang di pinggir jalan. Yang mengejar lalu berhenti karena tidak berani terus karena ada orang alim yang sedang sembahyang dan ditunggunya sampai selesai, sedangkan para kampak dengan sapinya sudah berjalan lebih jauh. Setelah selesai sembahyang orang yang mengejar sapi tersebut bertanya kepada Mbah Abu Sufyan apakah menjumpai para kampak yang membawa sapinya itu, maka beliau mengatakan tidak tahu, padahal beliaulah pemimpin kampak itu.
Di Mojojejer beliau dinasihatkan oleh gurunya supaya berhenti sebagai kepala kampak, namun beliau tidak berhenti juga. Pada saatnya beliau pernah menggunakan sapi hasil rampokannya itu untuk mengerjakan sawah, namun sawahnya itu tidak dapat panen. Barulah beliau mengerti akan hukum batin (hukum karma), dan sejak itu beliau bertobat tidak menjadi perampok.

Kisah Yai Ihsan

Yai Ihsan ingin mewarisi ilmunya Mbah Abu Sufyan, yaitu supaya bisa terbang. Dan beliau tirakat puasa tujuh hari seperti yang dilakukan oleh Mbah Abu Sufyan, namun Yai Ihsan tidak berhasil. Dan diulanginya sampai tujuh kali tujuh hari, namun tidak berhasil juga. Beliau hanya berhasil sampai pada dapat meloncat 2 ru (rong ru) yaitu dapat meloncati sungai besar di sebelah timur Mojojejer itu. Katanya di zaman dulu sungai besar di sebelah timur Mojojejer itu airnya selalu besar sekalipun di musim kemarau, besarnya seperti kalau sedang banjir di masa sekarang ini.

Kisah Kanjeng Lider

Kanjeng Lider adalah Bupati di wilayah yang sekarang Kabupaten Mojokerto. Suatu masa Gunung Kelud sedang meletus. Maka Kanjeng Lider dibantu Lurah Siman ( di lereng Gunung Kelud) dapat masuk ke tempat lahar dengan kekuatan batin, seterusnya Kanjeng Lider menjatuhkan intan ke dalam kawah Gunung Kelud, dan berhentilah muntahan letusan Gunung Kelud.

Kisah merajalelanya Kampak

Konon ketika para penguasa kulit putih (Belanda) masih terbatas di wilayah-wilayah kota yaitu terutama di daerah sekitar Keraton Mataram saja, maka daerah-daerah pelosok yang masih sepi adalah menjadi ajang para kampak sebab tidak ada yang melindungi dan tidak terjangkau oleh aparat. Namun setelah para penguasa kulit putih sampai di daerah-daerah pedesaan barulah kampak-kampak itu aman tidak berkeliaran.
Ketika para kampak masih merajalela pernah terjadi pada suatu ketika masuk ke selatan sampai ke daerah Pacet dan harus melalui desa Mojojejer. Desa Mojojejer adalah merupakan pos penjagaan yang dilakukan oleh para pendekar di Mojojejer untuk mencegah masuknya para kampak yang datang dari utara (Surabaya) ke daerah selatan. Ketika para kampak itu masuk ke selatan maka dicoba oleh para pendekar di Mojojejer itu untuk dibiarkan saja lewat. Dan benarlah kemudian terjadi perampokan di daerah-daerah selatan. Setelah itu para kampak kembali ke utara dan melewati desa Mojojejer dengan membawa barang-barang hasil rampokannya. Di desa Mojojejer diberhentikan oleh para pendekar yang dipimpin oleh Kyai Mas Ma’nawi, dan terjadilah duel dan para kampak itu dapat dikalahkan. Barang-barang harus ditinggalkan, dan para kampak terus lari. Maka barang-barang itu kemudian akhirnya dapat kembali ke lurah-lurah dari desa-desa yang dirampok. Dan mereka sangat berterima kasih dan kagum atas keberanian dan kesaktian para pendekar di Mojojejer yang ternyata mampu mengalahkan para kampak.


TUTUR CERITERA DARI K.H. MUH. IMRON ABDUL MUNTHOLIB

Pada tanggal 13 Agustus 2010, K.H. Muh. Imron (Mojojejer) menceriterakan seperti yang diterimanya dari romonya (K. Abdul Muntholib Pucang) yang diturunkan dari mbahnya (Mbah Imam Pucang), bahwa Mbah Faqih dari Cirebon datang ke wilayah Kediri, ngintir kali Brantas sampai tiba di Kali Porong. Dengan menembus tanah dasar Kali Porong muncul di dusun Pucang Ngerong (Kec. Gempol, Kab. Pasuruan).
Mbah Faqih juga melaksanakan babat alas Mojojejer (Kab. Mojokerto), dan memukimkan anaknya yang bernama : Nyai Syarifah. Dari keturunannya ada 2 laki-laki wadat (membujang dan tidak berketurunan), yang bernama Mbah Jangglot (makamnya di selatan lapangan Mojojejer), dan Mbah Imam Baghwi (makamnya di makam Sembujo Doyong Mojojejer Ledok).

           TUTUR CERITERA DARI KYAI MASDUQI JAWAHIRTU

 Pada tanggal 1 November 1983, K. MASDUQI JAWAHIR (Sambiresik Gampengrejo Kediri) menceriterakan dalam tulisannya, seperti yang diterimanya dari Mbahnya (Mbah Mujnar / Muhammad Cholifah), Kemodo Mojoagung, seperti berikut ini :

Asal-usul nama Mojojejer dan Pesanggrahan

 Kyai Achmad Cholifah dari Tebuseren Sidoarjo datang ke hutan gadung dan gembulu kawasan Kaliwelang Pasuruan (sekarang bernama  Ds. Petaunan Gembong, Kec. Gadingrejo, Kota Pasuruan, Jawa Timur), untuk membangun pesantren sesuai perintah romonya (Mbah Sambiresik), yang sebelumnya sudah dibuka Mbah Sayid Ghozali bin Ali Akbar bin Sayid Sulaiman Basyaiban. Maka tempat itu kemudian dinamakan Desa Rujak Gadung Gembong, dan Sang Kyai sendiri mendapat sebutan Kyai Rujak Gadung Gembong. Dan sebutan lainnya dengan nama Mbah Kepolo Perang. Dari Pasuruan beliau datang ke Hutan Mojo kawasan utara kaki gunung Welirang Mojokerto untuk membuka Pesantren dan bermukim sampai wafatnya (makam : Dsn. Mojojejer sebelah utara lapangan, Ds. Pesanggrahan, Kec. Kutorejo, Kab. Mojokerto, Jawa Timur).
 Kyai Mas Ma’nawi putra Kyai Achmad Cholifah mendapatkan wasiat romonya bahwa sepeninggalnya nanti supaya membuka hutan mojo untuk meluaskan pemukiman. Ketika membuka hutan mojo, Kyai Mas Ma’nawi dan para pendekar santri berhadapan dengan kawanan kampak (begal, perampok) yang dipimpin Walang Gepuk dan Celeng Srenggi yang menempati hutan tersebut sebagai pesanggrahannya. Sang Kyai dan para pendekar dapat mengalahkan kawanan kampak tersebut. Maka tempat tersebut kemudian dinamakan Mojojejer karena bekas hutan mojo, dan dinamakan Pesanggrahan karena merupakan bekas pesanggrahannya kawanan kampak.
 Kyai Abdul Latif putra Kyai Mas Ma’nawi dititipkan kepada Mbah Haji Khasan Munadoh di Desa Gedangan Rosobo, Mojoagung, Kab. Jombang, Jawa Timur. Nama Abdul Latif diganti dengan Muhammad Cholifah meniru nama eyangnya (Kyai Achmad Cholifah).
Muhammad Cholifah mendatangi sayembara Lurah Kemodo Mojoagung (Lurah Murti), yang kemudian dapat mengalahkan jagoan bernama Centhung dari Bojonegoro. Sebagai imbalannya Muhammad Cholifah diambil menantu mendapat putri Lurah Kemodo yang bernama Murtikatal Suwati, dan dibuatkan pesantren dan Masjid di Kemodo Mojoagung. Sebutan beliau kemudian diganti dengan nama Muhammad Mujnar (Mbah Mujnar) karena bisa mengalahkan jagoan Centhung yang berbuat onar dengan mengambil gadis-gadis dan isteri orang. Para santri memanggil beliau dengan sebutan Kyai Muhammad Cholifah Mujnar. Makam beliau adalah di belakang Masjid Kemodo Mojoagung.

Sejarah SYEKH MAULANA MANSURUDDIN
(Versi lain asal-usul Mbah Tebuseren)


Bismillahir rohmanir rohim, Alhamdulillahi robbil alamin, Washolatu was salamu ala asyrofil anbiya’i wal mursalin wa ala alihi wa shohbihi ajma’in, wa ba’du. Risalah puniko kangge nyumurupi silsilahipun Syekh Maulana Mansuruddin ing Cikadun.
Maulana Mansuruddin bin Abdul Fatah Tirtayasa bin Abul Ma’alli  Ahmad Kanari bin Abul Mufahar Muhamad Abdul Qodir bin Muhamad Nasuruddin bin Maulana Yusuf Pekalongan Kadi bin Maulana Hasanuddin bin Syarif Hidayatulloh Cirebon bin Syarif Abdulloh bani Isro’il bin Maulana Idris Akbar bin Abdulloh Kamil bin Hasan Mutsani bin Hasan Sabthi bin Ali wa Fatimatuz Zahro binti Muhamad Rosululloh SAW.
Asmanipun Syekh Maulana Mansuruddin puniko kathah, ing antawisipun inggih puniko : 1) Syekh Maulana Mansuruddin, 2) Abu Nasor, 3) Abdul Qohar, 4) Abu Sholih, 5) Sultan Haji , putranipun Sultan Ageng Abdul Fatah Tritayasa.
Dipun cariyosaken, bilih wonten ing tahun 1651 Masihi panjenenganipun Sultan Agung Abdul Fatah lingsir keprabon lan Kasultanan, dipun turunaken dateng putranipun inggih puniko Maulana Mansuruddin, Sultan ingkang kaping pitu ing Banten.
Kirang-langkung kalih tahun penjenenganipun Maulana Masuruddin ngasto Kasultanan, lajeng hajat bade tindak dateng Mekah saperlu ngelampahi ibadah Haji , lan Kasultanan dipun wakilaken dateng putranipun ingkang asmo Adipati Ishaq gelar Sultan Abul Fadli.
Naliko bade berangkat dateng Mekah, panjenenganipun nerami wasiat saking ramanipun, inggih puniko Sultan Agung Tirtayasa, wasiatipun menawi tindak dateng Mekah Maulana Mansuruddin mboten paring mampir-mampir. Saksampunipun Maulana Mansuruddin rampung anggenipun ngelampahi ibadah Haji , naliko kondur dateng MBanten penjenenganipun khilaf kalian wasiatipun ingkang romo, lajeng mampir dateng pulau Manjaki laladan negari Cino. Wonten salah satunggaling riwayat Maulana Mansuruddin wonten ing pulau Manajaki laminipun watawis kalih tahun, mundut garwo ratu Jin, lan dipun paringi putro setunggal.
Saklaminipun Maulana Mansuruddin wonten pulau Manjaki panjenenganipun Sultan wakil inggih puniko Adipati Ishaq ing Banten kinging bujukipun Walandi ngantos Sultan wakil wahu dipun angkat lan dipun dadosaken Sultan ingkang resmi. Tapi Sultan Agung Abdul Fatah Tirtayasa boten sakrujuk lan kedah nenggo rawuhipun Sultan Maulana Mansuruddin. Kawontenan ingkang kados makaten wahu lajeng timbul riyokese kekacauan. Ngantos wonten satunggaling wekdal wonten bita ingkang labuh wonten ing pelabuhan Banten, ingkang ngaken-ngaken bilih Sultan Mansuruddin sampun rawuh saking Mekah lan ngasto angsal-angsal saking negari Mekah, lan ngaken Sultan Abu Nasor, ngantos kathah rakyatipun ingkang percados, ananging Sultan wakil inggih puniko Pangeran Adipati Ishaq mboten percados keranten ingkang dateng pelabuhan Banten puniko Sultan Mansuruddin palsu, lajeng Sultan wakil sowan dateng ngarsanipun Sultan Agung Fatah ingTirtayasa, matur bilih ing Banten kedatengan Sultan palsu lan ingkang dados Sultan palsu puniko mboten sanes inggih Rojo Pendito katurunanipun Rojo Jin saking pulau Manjaki. Akhiripun Sultan Agung Abdul Fatah duko sanget ugi Sultan wakil Adipati Ishaq inggih duko ngantos ngawontenaken peperangan lumawan Sultan Mansuruddin palsu, lan Sultan Agung dipun bantu dining Tubagus Bawang. Wonten peperangan puniko akhiripun Sultan Agung kesasar ngantos dumugi ing Tirtayasa.
Wontenipun Sultan Mansuruddin palsu lan peperangan ing Banten puniko kepireng dining Maulana Mansuruddin ingkang taksih wonten ing pulau Manjaki, lajeng panjenenganipun eman kalian wasiatipun ingkang Romo bilih mboten paring mampir-mampir. Akhiripun Sultan Syekh Maulana Mansuruddin sanget getunipun lan terus nilaraken pulau Manjaki lan kundur malih dateng Mekah saperlu bade taubat dateng ngarzanipun Alloh wontening Baitulloh. Keranten panjenenganipun rumahos kagungan duso ingkang katah inggih puniko ngelanggar wasiatipun tiang sepuh. Saksampunipun taubat wonten ing Baitulloh, taubatipun Syekh Maulana Mansuruddin dipun terami dining Alloh, sarto dipun paringi ilmu ingkang sampurno ngantos dipun paringi ilmu kewalian, lajeng panjenenganipun imut lan kapingin kundur dateng tanah Jawi (Banten), sarono kodrat lan irodatipun gusti Alloh panjenenganipun Syekh Maulana Mansuruddin anggenipun kundur dateng Banten miyos lan sarono selulup wonten ing salebetipun sumur zamzam lan terus muncul wonten ing Ciwulakan, Cimanuk. Saksampunipun puniko lajeng panjenenganipun rawuh dateng kampung Cikurma, lan mundut garwo Nyai Sarinten kagungan putro asmo Muhamad Sholih, sahinggo panjenenganipun  Syekh Maulana Mansuruddin katelah Kiyahi Abu Sholih, selaminipun wonten ing Cikurma kegiatanipun Syekh Maulana Mansuruddin mboten wonten sanes namung mucal syari’at agami Islam. Mboten antawis dangu Nyai Sarinten garwanipun Sultan Mansuruddin  pupus yuswo lan dipun sareaken wonten ing pesarean Cikaroi, Cimanuk. Salajengipun Syekh Maulana Mansuruddin pindah dateng Cikadun lan mundut hadam asma Ki Jemah sarto mundut garwo malih asmo Nyai Jamilah asal saking Caringin Labuhan peputro setunggal. Wekdal panjenenganipun Syekh Maulana Mansuruddin anggiyaraken syari’at agami Islam wonten daerah Pekalongan, inggih puniko wonten ing pasisir laut, kaleresan wonten ing salebeting perjalanan ing satengahing wono Pakonmanitung, Syekh Maulana Mansuruddin istirokhat wonten ing sangandapipun wit waru kalian hadamipun inggih puniko Ki Jemah sarono nyandaraken saliranipun wonten pangkalipun wit waru puniko, nanging mboten kanyono-nyono wit waru puniko lajeng ngadek jejeg lan terus kados patrapipun tiyang ingkang cahos khurmat tunduk dateng ngarsanipun puniko wali ngantos samangke wit waru puniko mboten wonten ingkang lempeng. Boten antawis dangu anggenipun Syekh Maulana Mansuruddin istirokhat, lajeng midanget wonten suwantenipun singo ingkang njerit kesakitan leresipun wonten ing sapinggiripun seganten, keranten sukunipun dipun jupit khayawan laut inggih puniko kimabrangrit, sareng simo wahu ningali datengipun Syekh Maulana Mansuruddin lajeng mendelaken cahos khurmat dateng wontenipun puniko wali lan nyuwun pitulungan. Wakdal samanten Syekh Maulana Mansuruddin mangertos wicantenipun satwa khayawan, milo simo puniko lajeng dipun tulungi. Syekh Maulana Mansuruddin ngendiko dateng Simo wahu ngendikanipun makaten : siro saiki wis dak tulungi mulo siro saiki kudu sanggup lan janji yen siro lan sak anak buah iro sakturun temurun ora keno iri dengki lan ganggu gawe marang anak putuku turun temurun. Simo wahu sagah lan janji, lajeng kalian Syekh Maulana Mansuruddin Simo wahu dipun kurung kalian surat Yasin minongko tondo sumpah setianipun lan dipun paringi asmo Si Pincang atawa Raden Tampang Langlang Buana, ayugi buyut Kalam, sarta dipun paringi panguaos dados ratuningpun sedoyo Simo ing nenem daerah pakon, inggih puniko: 1) Ing pojok kulon ingkang dipun ratoni dining Ki Mahadewa, 2) Ing gunung inten ratunipun asma Ki Bima Laksana, 3) Ing pakon Lumajang dipun ratoni diding Raden Singobarong, 4) Ing gunung Mangajaran dipun ratoni dining Ki Buligik Jaya, 5) Ing daerah Majua dipun ratoni dining Raden Patri, 6) Ing daerah pakon Manitung piyambak dipun duduki dining ratunipun sedoyo Simo wahu, inggih puniko Si Pincang atawa Raden Tampang Langlang Buana, atawa Ki Buyut Kalam.
Saksampunipun Syekh Maulana Mansuruddin anggiyaraken syari’at agami Islam wonten ing daerah pakidulan, panjenenganipun lajeng kundur dateng Cikadun kalian hadamipun Ki Jemah. Akhiripun wonten ing tahun 1672 Masihi panjenenganipun Syekh Maulana Mansuruddin pupus yuswo lan dipun sareaken wonten ing Cikadun.
Katerangan : 1) Sultan Agung Abdul Fatah pasarehanipun wonten ing kampung Istana desa Pegandikan, kecamatan Tirtayasa, kawedanan Puntang, Serang. 2) Cibulakan wonten ing kampung Huluca’i, deso Paku Handap, kecamatan Cimanuk, kabupaten Pandegelang. 3) Nyai Sarinten Pesarehanipun wonten ing Cikaro’i, kecamatan Cimanuk, kabupaten Pandegelang. 4) Ujung Kulon, deso Cikurundung, kecamatan Cimanggu, kawedanan Cibaliyung, kabupaten Pandegelang. 5) Gunung Inten, wonten ing wilayah kecamatan Cimarga, kawedanan Luwidamar, Rangkasbitung. 6) Pakon Lumajang tempatipun wonten ing daerah Lampung Sumatera. 7) Gunung Pangajaran wonten ing diso Carito, kawedanan Labuhan, kabupaten Pandegelang, puniko pusatipun perguruan pencak silat macan. 8) Daerah Majua panggenanipun wonten ing diso Maju, kecamatan Sakeni, kawedanan Menis, kabupaten Pandegelang. 9) Pakon Manitung panggenanipun wonten ing deso Sumur Batu, kecamatan Cikesik, kawedanan Cibaliyung, kabupaten Pandegelang. 10) Ki Jemah pesarehanipun wonten ing kampung Kuncang, deso Kadukadung, kecamatan Cimanuk, kabupaten Pandegelang.
Katerangan ingkang ngasto panguaos Kasultanan : 1) Syarif Hidayatulloh, inggih wali ingkang ongko songo ngasto panguaos Kasultanan Cirebon ngantos akhir tahun 1527 Masihi. 2) Sultan Maulana Hasanuddin, inggih ingkang ngasto Kasultanan Banten ingkang kawitan : 1527 –1552 Masihi. 3) Sultan Maulana Yusuf Pekalongan Gede : tahun 1552 – 1570 Masihi. 4) Sultan Muhamad Mansuruddin – Sultan Abu Mufahar Muhamad Abdul Qodir : 1570 – 1596 Masihi. 5) Sultan Abul Ma’alli Ahmad Kanari tahun 1596 – 1640 Masihi. 6) Sultan Agung Abul Fatich Abdul Fatah Tirtayasa, tahun 1640 – 1651 Masihi. 7) Sultan Syekh Maulana Mansuruddin, tahun 1651 – 1672 Masihi.
Katerangan poro putranipun Syekh Maulana Mansuruddin : 1) Pangeran Adipati Ishaq gelar Sultan Abul Fadli. 2) Pangeran Abu Sholih. 3) Pangeran Abul Hasan gelar Sultan Zainal Abidin. 4) Pangeran Muhamad Tohir utawi Tasmidin atawi Kiyahi Muhamad Muhtar, Tebuseren, kecamatan Kedungcangkring, kawedanan Bangil, kabupaten Pasuruhan. 5) Pangeran Fadluddin, atawi Samiluddin, atawi Mbah Muhamad Jalalen pesarehanipun wonten ing Kasembon  kutomadyo Malang. 6) Pangeran Ja’faruddin inggih Syai’uddin pesarehanipun wonten ing Warungdowo, Pasuruhan. 7) Pangeran Muhamad Alim inggih Syamsuddin pesarehanipun wonten ing Kepanjen, kabupaten Malang. 8) Nyai ratu Rohimah. 9) Nyai ratu Khalimah. 10) Nyai ratu Mukhibbi Jambi. 11) Putro saking ratu Jin ing pulau Manjaki negari Cino. Wallohu a’lam bis showab.

Dipun tarjamahaken saking boso Sundo, dining H. Syu’eb Bashri (Kulowargo Keturunan Mbah Tebuseren, ing Jagalan Malang 1992 M).

Keterangan : Sejarah Syekh Maulana Mansuruddin Banten tidak berkait dengan riwayat Mbah Sambiresik yang hidup pada era 1800-an, tetapi berkait dengan Pangeran Muhammad Thohir Tebuseren yang pernah hidup pada era 1700-an.

Untuk Bagan & silsilah Keluarga yang lain akan saya tampilkan di Bag.2

0 komentar:

Poskan Komentar